Kamis, 24 November 2011

OSTEOPOROSIS


A.    Pendahuluan
Tulang terdiri dari mineral-mineral yang berupa kalsium dan fosfat yang membuat tulang menjadi keras dan padat, sehingga tulang tidak mudah patah. Tulang juga membutuhkan persediaan vitamin D  yang diperlukan untuk menyerap kalsium dari makanan. Jika tubuh tidak mampu mengatur kandungan mineral, tulang menjadi kurang padat dan lebih rapuh, sehingga dapat menyebabkan terjadinya pengeroposan pada tulang (Junaidi, 2007:xvii--xviii).
Tubuh memerlukan persediaan kalsium dan mineral lainnya dan harus menghasilkan hormon dalam jumlah yang mencukupi (hormon paratiroid, hormon pertumbuhan, kalsitonin, estrogen pada wanita dan testosteron pada pria) untuk mempertahankan kepadatan tulang.
Tubuh juga memerlukan persediaan vitamin D untuk menyerap kalsium dari makanan dan memasukkan ke dalam tulang (bdk http://herdinrusli.wordpress.com/2007/12/11/osteoprosis/).
Pada penulisan ini akan membahas tentang pengertian osteoporosis, penyebab pengeroposan pada tulang, gejala-gejala yang muncul, serta pengobatan, dan pencegahan yang dapat dilakukan.
Dengan adanya penulisan ini dapat memberikan pengetahuan tentang kesehatan tulang sehingga masyarakat terhindar dari berbagai penyakit tulang, pengobatannya jika sudah terlanjur sakit serta masyarakat lebih paham tentang osteoporosis dan melakukan pola hidup sehat.
Osteoporosis merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan berkurangnya kepadatan massa tulang yang mengakibatkan kerapuhan pada tulang dan risiko patah tulang. Pada laki-laki massa tulang akan lebih lama berkurang dari pada massa tulang perempuan, hal ini disebabkan karena pada perempuan terjadi  massa menopause ( Junaidi, 2007:1)

 B. Osteoporosis
I. Pengertian Osteoporosis
Osteoporosis berasal dari kata osteo dan porous, osteo artinya tulang dan porous berarti berlubang-lubang atau keropos. Jadi, osteoporosis adalah tulang  keropos yang mempunyai sifat khas berupa massa tulangnya rendah atau berkurang, disertai gangguan mikro-arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tubuh yang dapat menimbulkan kerapuhan tulang. Tulang yang rapuh dan keropos ini mudah patah atau fraktur (Tandra, 2009:5).
WHO mengatakan bahwa osteoporosis adalah suatu penyakit dengan tanda utama berupa berkurang adanya kepadatan massa tulang yang berakibat meningkatnya kerapuhan tulang dan risiko patah tulang (Junaidi, 2007:1).
Pengeroposan tulang telah menjadi masalah kesehatan serius di dunia. Pada masa mendatang penyakit ini akan menjadi salah satu penyakit serius dikalangan penduduk Asia. Pada 2050 diperkirakan lima puluh  persen dari kasus osteoporosis didunia akan terjadi di Asia dan menjadi beban ekonomi sosial yang cukup tinggi bagi pemerintah dan masyarakat (Redaksi, 2010:8). 

 II. Penyebab Osteoporosis
Menurut Tandra (2009:37--42) faktor-faktor penyebab osteoporosis antara lain:
  1. Jenis Kelamin
Dibandingkan dengan kaum pria, wanita usia lanjut lebih mudah terkena osteoporosis karena massa tulang wanita relatif lebih sedikit dan lebih mengalami pengurangan dibandingkan pria.
  1. Ras
Orang kulit hitam lebih jarang terkena osteoporosis daripada kulit putih, orang Eropa atau orang Asia.
  1. Usia
Dengan bertambahnya usia, risiko terjatuh dan patah tulang menjadi bertambah pula. Hal ini disebabkan oleh faktor lingkungan dan faktor kesehatan lanjut usia.
  1. Riwayat Patah Tulang Sebelumnya
Orang yang pernah mengalami patah tulang akan berisiko patah lagi karena tulangnya sudah koropos.
  1. Diabetes Mellitus
Orang yang mengidap kencing manis lebih mudah mengalami osteoporosis karena kekurangan insulin.
  1. Penyakit Tiroid (Gondok)
Hipertiroid atau kadar hormon tiroid tinggi  dan berlebihan akan menyebabkan penurunan massa tulang sehingga mengakibatkan osteoporosis.
  1. Penyakit Kanker
Kanker yang dikaitkan dengan timbulnya osteoporosis adalah kanker sumsum tulang (myeloma maligna), luekemia atau limfoma.
  1. Penyakit Kanker
Kanker yang dikaitkan dengan timbulnya osteoporosis adalah kanker sumsum tulang (myeloma maligna), luekemia atau limfoma.
  1. Pola Makan
Pola makan yang banyak mengonsumsi protein, garam, serta kafein akan mengakibatkan risiko osteoporosis.
  1. Stres
Stres meningkatkan hormon stres yang dapat memicu timbulnya infeksi, obsitas, luka yang sulit sembuh, gangguan belajar, daya ingat menurun, tekanan darah tinggi, diabetes, sakit jantung hingga osteoporosis.
  1. Polusi Bahan Kimia
Asap pembakaran mesin kendaraan bermotor dan limbah industri seperti organoklorida yang ditemukan di air, tanah dan makanan dapat merusak sel dan menimbulkan penyakit termasuk pengeroposan tulang.
Junaidi (2007:2--5) mengatakan bahwa penyebab osteoporosis antara lain adalah sebagai berikut:
  1. Riwayat osteoporosis dalam keluarga
  2. Kurang olahraga
  3. Badan kurus
  4. Kurangnya hormon esterogen
Kekurangan estrogen yang membantu mengatur pengangkutan kalsium kedalam tubuh yang mengakibatkan terjadinya osteoporosis.
  1. Pemakaian obat-obatan
Pemakaian obat-obat seperti kartikosteroid, barbiturat, antikejang, dan hormon tiroid yang berlebihan. Bila dikonsumsi dalam jangka lama juga dapat menyebabkan osteoporosis.
  1. Penyakit hati, gangguan fungsi ginjal, penyakit paru kronis, penyakit tulang sumsum, cedera urat saraf tulang belakang, rematik, serta transplantasi organ mudah mengakibatkan osteoporosis.
  2. Kekurangan kalsium
Kurang mengkonsumsi kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan antara kecepatan hancurnya tulang (osteoklas) dan pembentukan tulang baru (osteoblas) dapat mempermudah timbulnya osteoporosis.
  1. Alkohol
Kebiasaan mengkonsumsi alkohol  jangka panjang dapat menurunkan massa tulang dan menyebabkan osteoporosis. 
  1. Merokok
Rokok dapat memperburuk osteblas sehingga mudah menimbulkan osteoporosis.
  1. Gangguan metabolisme, gizi buruk, dan penyerapan yang buruk dapat menyebabkan osteoporosis.
  2. Kontak dengan sinar matahari pagi atau sore yang sedikit.
  3. Kelainan hormonal terutama tiroid, paratiroid, dan adrenal.
III. Gejala-gejala
Kepadatan tulang berkurang secara berlahan, sehingga pada awalnya osteoporosis tidak menimbulkan gejala. Junaidi (2007:5) mengatakan bahwa  gejala-gejala osteoporosis seperti:
  1. Nyeri
Nyeri tulang ditimbulkan akibat kepadatan tulang berkurang dan tulang menjadi tipis.  Menipisnya tulang belakang  menyebabkan nyeri panggung  menahun, biasanya nyeri timbul secara tiba-tiba dan akan bertambah nyeri jika penderita berdiri atau berjalan.
  1. Disertai gejala menopause: panas, banyak keringat, keputihan, dan susah tidur.
  2. Pascamenopause: pelupa, nyeri tulang belakang.
Menurut Tandra (2009:12--15) seseorang yang terkena osteoporosis biasanya akan memberikan keluhan atau gajala sebagai berikut:
  1. Bungkuk atau Bentuk Tubuh Berkurang
Tubuh yang membungkuk biasanya terjadi akibat kerusakan beberapa ruas tulang belakang dari daerah dada dan pinggang. Osteoporosis pada tulang belakang menimbulkan fraktur kompresi atau kolaps dan menyebabkan badan membungkuk ke depan.

  1. Tulang Patah dan Rapuh
Tulang yang rapuh dan patah dinamakan fragility fracture. Salah satu patah tulang yang paling serius adalah patah tulang pinggul dan yang sering terjadi adalah patah tulang lengan di daerah persambungannya dengan pergelangan tangan yang disebut fraktur Colles. Pada penderita osteoporosis, patah tulang sembuhya cenderung  sangat lambat.
  1. Tinggi Badan Berkurang
Penurunan tinggi badan disebabkan karena fraktur tulang belakang yang umumnya tanpa keluhan, tetapi tubuh semakin pendek dan bungkuk.

IV. Pengobatan
Semua wanita, terutama yang menderita osteoporosis harus mengkonsumsi kalsium dan vitamin D dalam jumlah yang mencukupi. Wanita pascamenopause yang menderita osteoporosis bisa mendapatkan estrogen (biasanya bersama dengan progesteron) atau alendronat yang bisa memperlambat atau menghentikan penyakitnya. Bifosfonat juga digunakan untuk mengobati osteoporosis (bdk http://id.wikipedia.org/wiki/Osteoporosis).
Junaidi (2007:10) mengatakan alendronat berfungsi untuk mengurangi kecepatan penghancuran tulang pada wanita pascamenopause, meningkatkan massa tulang belakang dan tulang pinggul, dan mengurangi angka kejadian patah tulang. Alendronat diminum pada pagi hari, tiga puluh menit sesudahnya tidak boleh  makan atau minum yang lain dan berbaring. Alendronat dapat mengiritasi lapisan saluran pencernaan bagian atas. Obat ini tidak boleh diberikan kepada orang yang memiliki kesulitan menelan atau penyakit kerongkongan dan lambung tertentu.
Kalsitonin diberikan kepada orang yang menderita patah tulang belakang yang disertai nyeri. Obat ini bisa diberikan dalam bentuk suntikan atau semprot hidung. Fluorida bisa meningkatkan kepadatan tulang, tetapi tulang bisa mengalami kelainan dan menjadi rapuh sehingga pemakaiannya tidak dianjurkan (bdk http://herdinrusli.wordpress.com/2007/12/11/osteoprosis/).
Pria yang menderita osteoporosis biasanya mendapatkan kalsium dan tambahan vitamin D, terutama jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tubuhnya tidak menyerap kalsium dalam jumlah yang mencukupi. Jika kadar testosteronnya rendah, dapat diberikan testosterone untuk meningkatkan kepadatan tulang (bdk http://id.wikipedia.org/wiki/Osteoporosis).
Menurut Junaidi (2007:11) Nutrilife-Deer Velvet merupakan alternatif terkini untuk mencegah dan mengatasi osteoporosis. Nutrilife-Deer Velvet terbuat dari tanduk rusa merah dari New Zealand. Peneliti menemukan bahwa tanduk rusa mengandung delapan faktor pertumbuhan, prostaglandin, asam lemak, asam amino, dan komponen dari kartilago termasuk glukosamin, kondroitin sulfat,kolagen tipe-1, kolagen tipe-2, dan mineral.

V. Pencegahan
Junaidi  (2007:12--13) mengatakan bahwa pencegahan osteoporosis dapat dilakukan dengan menerapkan pola hidup sehat seperti tidur yang cukup, olahraga teratur dan menerapkan pola makanan yang sehat yaitu dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung kalsium, vitamin D, tinggi protein, rendah lemak, sayuran, dan buah-buahan serta minum susu dengan kadar kalsium tinggi.
Tandra (2009:140--141) mengatakan bahwa pencegahan lainnya dapat dilakukan dengan mengurangi faktor risiko antara lain:
  1. Menghentikan kebiasaan merokok.
  2. Pemakaian obat-obat tertentu seperti hormon steroid atau tiroid harus dalam pengawasan dokter.
  3. Jangan terlalu banyak mengkonsumsi alkohol.
  4. Hindari jatuh, khususnya orang tua dan perhatikan keadaan fisik, kekuatan tubuh, keseimbangan, dan faktor penglihatan yang mulai menurun.
C. Kesimpulan
Osteoposis merupakan penyakit kerapuhan tulang yang dapat menyebabkan risiko patah tulang. Pada wanita osteoporosis lebih cepat terjadi dibandingkan laki-laki, hal ini disebabkan karena pada wanita massa menopause, fungsi ovarium menurun drastis yang menyebabkan penurunan aktivitas pembentukan tulang baru dan peningkatan kerja osteoklas (penghancuran tulang).
Pengeroposon tulang  dapat dicegah sejak dini dengan menerapkan pola-pola hidup sehat. Namun ada beberapa faktor penyebab yang tidak bisa dicegah seperti, riwayat keluarga pernah mengalami osteoporosis, mengalami patah tulang, ras kulit putih, usia lanjut, jenis kelamin wanita, dan berat badan rendah atau terlalu kurus.

DAFTAR PUSTAKA
Tandra,  Hans. 2009. Osteoporosis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Juniaidi, Iskandar. 2007. Osteoporosis. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer.
Redaksi. 2010. “ Saatnya Cegah Si Keropos Tulang ”. Dalam Kompas Klasika, 16 November 2010. Yogyakarta.
http://herdinrusli.wordpress.com/2007/12/11/osteoprosis/ Diakses Kamis, 23 Desember 2010 pukul 10.52 WIB
http://id.wikipedia.org/wiki/Osteoporosis Diakses Kamis, 23 Desember 2010  pukul 20.07 WIB



0 komentar:

Posting Komentar