A. Pendahuluan
Tulang terdiri dari mineral-mineral
yang berupa kalsium dan fosfat yang
membuat tulang menjadi keras dan padat, sehingga tulang tidak mudah patah. Tulang juga
membutuhkan persediaan vitamin D yang diperlukan
untuk menyerap kalsium dari makanan. Jika tubuh tidak mampu mengatur kandungan
mineral, tulang menjadi kurang padat dan lebih rapuh, sehingga dapat
menyebabkan terjadinya pengeroposan pada tulang (Junaidi, 2007:xvii--xviii).
Tubuh
memerlukan persediaan kalsium dan mineral lainnya dan harus menghasilkan hormon
dalam jumlah yang mencukupi (hormon paratiroid, hormon pertumbuhan, kalsitonin,
estrogen pada wanita dan testosteron pada pria) untuk
mempertahankan kepadatan tulang.
Tubuh juga memerlukan persediaan vitamin D untuk menyerap
kalsium dari makanan dan memasukkan ke dalam tulang (bdk http://herdinrusli.wordpress.com/2007/12/11/osteoprosis/).
Pada penulisan
ini akan membahas tentang pengertian osteoporosis,
penyebab pengeroposan pada tulang, gejala-gejala yang muncul, serta pengobatan, dan pencegahan
yang dapat dilakukan.
Dengan adanya penulisan ini dapat
memberikan pengetahuan tentang kesehatan tulang sehingga masyarakat terhindar
dari berbagai penyakit tulang, pengobatannya jika sudah terlanjur sakit serta
masyarakat lebih paham tentang osteoporosis
dan melakukan pola hidup sehat.
Osteoporosis merupakan
suatu penyakit yang ditandai dengan berkurangnya kepadatan massa tulang yang
mengakibatkan kerapuhan pada tulang dan risiko patah tulang. Pada laki-laki
massa tulang akan lebih lama berkurang dari pada massa tulang perempuan, hal
ini disebabkan karena pada perempuan terjadi
massa menopause ( Junaidi,
2007:1)
B. Osteoporosis
I. Pengertian Osteoporosis
Osteoporosis berasal dari
kata osteo dan porous, osteo artinya tulang dan porous berarti berlubang-lubang atau
keropos. Jadi, osteoporosis adalah
tulang keropos yang mempunyai sifat
khas berupa massa tulangnya rendah atau berkurang, disertai gangguan mikro-arsitektur tulang dan penurunan
kualitas jaringan tubuh yang dapat menimbulkan kerapuhan tulang. Tulang yang
rapuh dan keropos ini mudah patah atau fraktur
(Tandra, 2009:5).
WHO mengatakan
bahwa osteoporosis adalah suatu penyakit dengan tanda utama berupa
berkurang adanya kepadatan massa tulang yang berakibat meningkatnya kerapuhan tulang
dan risiko patah tulang (Junaidi, 2007:1).
Pengeroposan tulang telah menjadi masalah kesehatan
serius di dunia. Pada masa mendatang penyakit ini akan menjadi salah satu
penyakit serius dikalangan penduduk Asia. Pada 2050 diperkirakan lima puluh persen dari kasus osteoporosis didunia akan terjadi di Asia dan menjadi beban ekonomi
sosial yang cukup tinggi bagi pemerintah dan masyarakat (Redaksi, 2010:8).
II. Penyebab Osteoporosis
Menurut Tandra
(2009:37--42) faktor-faktor penyebab osteoporosis
antara lain:
- Jenis Kelamin
Dibandingkan
dengan kaum pria, wanita usia lanjut lebih mudah terkena osteoporosis karena massa tulang wanita relatif lebih sedikit dan
lebih mengalami pengurangan dibandingkan pria.
- Ras
Orang kulit
hitam lebih jarang terkena osteoporosis
daripada kulit putih, orang Eropa atau orang Asia.
- Usia
Dengan
bertambahnya usia, risiko terjatuh dan patah tulang menjadi bertambah pula. Hal
ini disebabkan oleh faktor lingkungan dan faktor kesehatan lanjut usia.
- Riwayat Patah Tulang Sebelumnya
Orang yang
pernah mengalami patah tulang akan berisiko patah lagi karena tulangnya sudah
koropos.
- Diabetes Mellitus
Orang yang
mengidap kencing manis lebih mudah mengalami osteoporosis karena kekurangan insulin.
- Penyakit Tiroid (Gondok)
Hipertiroid atau kadar
hormon tiroid tinggi dan berlebihan akan menyebabkan penurunan
massa tulang sehingga mengakibatkan osteoporosis.
- Penyakit Kanker
Kanker yang
dikaitkan dengan timbulnya osteoporosis
adalah kanker sumsum tulang (myeloma
maligna), luekemia atau limfoma.
- Penyakit Kanker
Kanker yang
dikaitkan dengan timbulnya osteoporosis
adalah kanker sumsum tulang (myeloma
maligna), luekemia atau limfoma.
- Pola Makan
Pola makan yang
banyak mengonsumsi protein, garam,
serta kafein akan mengakibatkan
risiko osteoporosis.
- Stres
Stres
meningkatkan hormon stres yang dapat memicu timbulnya infeksi, obsitas, luka yang sulit sembuh,
gangguan belajar, daya ingat menurun, tekanan darah tinggi, diabetes, sakit jantung hingga osteoporosis.
- Polusi Bahan Kimia
Asap pembakaran
mesin kendaraan bermotor dan limbah industri seperti organoklorida yang ditemukan di air, tanah dan makanan dapat
merusak sel dan menimbulkan penyakit termasuk pengeroposan tulang.
Junaidi (2007:2--5)
mengatakan bahwa penyebab osteoporosis antara lain adalah sebagai berikut:
- Riwayat osteoporosis dalam keluarga
- Kurang olahraga
- Badan kurus
- Kurangnya hormon esterogen
Kekurangan estrogen yang membantu mengatur
pengangkutan kalsium kedalam tubuh yang mengakibatkan terjadinya osteoporosis.
- Pemakaian obat-obatan
Pemakaian obat-obat
seperti kartikosteroid, barbiturat,
antikejang, dan hormon tiroid yang
berlebihan. Bila dikonsumsi dalam jangka lama juga dapat menyebabkan osteoporosis.
- Penyakit hati, gangguan fungsi ginjal, penyakit paru kronis, penyakit tulang sumsum, cedera urat saraf tulang belakang, rematik, serta transplantasi organ mudah mengakibatkan osteoporosis.
- Kekurangan kalsium
Kurang
mengkonsumsi kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan antara
kecepatan hancurnya tulang (osteoklas) dan pembentukan tulang baru (osteoblas)
dapat mempermudah timbulnya osteoporosis.
- Alkohol
Kebiasaan
mengkonsumsi alkohol jangka panjang
dapat menurunkan massa tulang dan menyebabkan osteoporosis.
- Merokok
Rokok dapat
memperburuk osteblas sehingga mudah
menimbulkan osteoporosis.
- Gangguan metabolisme, gizi buruk, dan penyerapan yang buruk dapat menyebabkan osteoporosis.
- Kontak dengan sinar matahari pagi atau sore yang sedikit.
- Kelainan hormonal terutama tiroid, paratiroid, dan adrenal.
III. Gejala-gejala
Kepadatan
tulang berkurang secara berlahan, sehingga pada awalnya osteoporosis tidak menimbulkan gejala. Junaidi (2007:5) mengatakan
bahwa gejala-gejala osteoporosis seperti:
- Nyeri
Nyeri tulang
ditimbulkan akibat kepadatan tulang berkurang dan tulang menjadi tipis. Menipisnya tulang belakang menyebabkan nyeri panggung menahun, biasanya nyeri timbul secara
tiba-tiba dan akan bertambah nyeri jika penderita berdiri atau berjalan.
- Disertai gejala menopause: panas, banyak keringat, keputihan, dan susah tidur.
- Pascamenopause: pelupa, nyeri tulang belakang.
Menurut Tandra
(2009:12--15) seseorang yang terkena osteoporosis biasanya akan memberikan
keluhan atau gajala sebagai berikut:
- Bungkuk atau Bentuk Tubuh Berkurang
Tubuh yang
membungkuk biasanya terjadi akibat kerusakan beberapa ruas tulang belakang dari
daerah dada dan pinggang. Osteoporosis
pada tulang belakang menimbulkan fraktur
kompresi atau kolaps dan
menyebabkan badan membungkuk ke depan.
- Tulang Patah dan Rapuh
Tulang yang
rapuh dan patah dinamakan fragility
fracture. Salah satu patah tulang yang paling serius adalah patah tulang
pinggul dan yang sering terjadi adalah patah tulang lengan di daerah
persambungannya dengan pergelangan tangan yang disebut fraktur Colles. Pada
penderita osteoporosis, patah tulang sembuhya cenderung sangat lambat.
- Tinggi Badan Berkurang
Penurunan
tinggi badan disebabkan karena fraktur
tulang belakang yang umumnya tanpa keluhan, tetapi tubuh semakin pendek dan
bungkuk.
IV. Pengobatan
Semua wanita, terutama yang menderita osteoporosis harus mengkonsumsi kalsium dan vitamin D dalam jumlah yang mencukupi. Wanita pascamenopause yang menderita osteoporosis bisa mendapatkan estrogen
(biasanya bersama dengan progesteron) atau alendronat yang bisa memperlambat atau
menghentikan penyakitnya. Bifosfonat juga digunakan untuk mengobati osteoporosis (bdk http://id.wikipedia.org/wiki/Osteoporosis).
Junaidi
(2007:10) mengatakan alendronat
berfungsi untuk mengurangi kecepatan penghancuran tulang pada wanita pascamenopause, meningkatkan massa
tulang belakang dan tulang pinggul, dan mengurangi angka kejadian patah tulang.
Alendronat diminum pada pagi hari, tiga puluh menit sesudahnya tidak boleh makan atau minum yang lain dan berbaring.
Alendronat dapat
mengiritasi lapisan saluran pencernaan bagian atas. Obat ini tidak boleh
diberikan kepada orang yang memiliki kesulitan menelan atau penyakit kerongkongan dan lambung tertentu.
Kalsitonin diberikan
kepada orang yang menderita patah tulang belakang yang disertai nyeri. Obat ini
bisa diberikan dalam bentuk suntikan atau semprot hidung. Fluorida bisa meningkatkan kepadatan tulang, tetapi tulang bisa mengalami kelainan
dan menjadi rapuh sehingga
pemakaiannya tidak dianjurkan (bdk http://herdinrusli.wordpress.com/2007/12/11/osteoprosis/).
Pria yang menderita osteoporosis
biasanya mendapatkan kalsium dan tambahan vitamin D, terutama jika hasil
pemeriksaan menunjukkan bahwa tubuhnya tidak menyerap kalsium dalam jumlah yang
mencukupi. Jika kadar testosteronnya rendah, dapat diberikan testosterone untuk
meningkatkan kepadatan tulang (bdk http://id.wikipedia.org/wiki/Osteoporosis).
Menurut Junaidi
(2007:11) Nutrilife-Deer Velvet
merupakan alternatif terkini untuk mencegah dan mengatasi osteoporosis. Nutrilife-Deer
Velvet terbuat dari tanduk rusa merah dari New Zealand. Peneliti menemukan
bahwa tanduk rusa mengandung delapan faktor pertumbuhan, prostaglandin, asam lemak, asam amino, dan komponen dari kartilago termasuk glukosamin, kondroitin
sulfat,kolagen tipe-1, kolagen tipe-2, dan mineral.
V. Pencegahan
Junaidi (2007:12--13) mengatakan bahwa pencegahan osteoporosis dapat dilakukan dengan
menerapkan pola hidup sehat seperti tidur yang cukup, olahraga teratur dan
menerapkan pola makanan yang sehat yaitu dengan mengkonsumsi makanan yang
mengandung kalsium, vitamin D, tinggi protein, rendah lemak, sayuran, dan buah-buahan
serta minum susu dengan kadar kalsium tinggi.
Tandra
(2009:140--141) mengatakan bahwa pencegahan lainnya dapat dilakukan dengan
mengurangi faktor risiko antara lain:
- Menghentikan kebiasaan merokok.
- Pemakaian obat-obat tertentu seperti hormon steroid atau tiroid harus dalam pengawasan dokter.
- Jangan terlalu banyak mengkonsumsi alkohol.
- Hindari jatuh, khususnya orang tua dan perhatikan keadaan fisik, kekuatan tubuh, keseimbangan, dan faktor penglihatan yang mulai menurun.
C.
Kesimpulan
Osteoposis
merupakan penyakit kerapuhan tulang yang dapat menyebabkan risiko patah tulang.
Pada wanita osteoporosis lebih cepat
terjadi dibandingkan laki-laki, hal ini disebabkan karena pada wanita massa menopause, fungsi ovarium menurun drastis yang menyebabkan penurunan aktivitas pembentukan
tulang baru dan peningkatan kerja osteoklas
(penghancuran tulang).
Pengeroposon
tulang dapat dicegah sejak dini dengan
menerapkan pola-pola hidup sehat. Namun ada beberapa faktor penyebab yang tidak
bisa dicegah seperti, riwayat
keluarga pernah mengalami osteoporosis, mengalami
patah tulang, ras kulit putih, usia lanjut, jenis kelamin wanita, dan berat
badan rendah atau terlalu kurus.
DAFTAR PUSTAKA
Tandra, Hans. 2009. Osteoporosis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Juniaidi,
Iskandar. 2007. Osteoporosis.
Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer.
Redaksi. 2010. “ Saatnya Cegah Si Keropos Tulang ”. Dalam Kompas Klasika, 16 November 2010. Yogyakarta.
http://herdinrusli.wordpress.com/2007/12/11/osteoprosis/ Diakses Kamis, 23 Desember 2010 pukul 10.52 WIB
0 komentar:
Posting Komentar